Lembata, 3 Oktober 2026 – Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi pada Jumat (2/10/2026) malam. Erupsi tersebut melontarkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 300 meter di atas puncak. Aktivitas vulkanik juga disertai aliran lava segar yang bergerak sejauh 500 meter menuju sektor tenggara dari bibir kawah utama. Hingga saat ini, Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Status Level II atau Waspada.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan erupsi terjadi pada pukul 21.41 WITA. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong menuju arah barat. Ketinggian kolom abu tercatat mencapai sekitar 1.723 meter di atas permukaan laut. Aktivitas tersebut terpantau secara visual sekaligus terekam melalui peralatan pemantauan kegempaan gunung api.
Catatan seismogram menunjukkan erupsi mempunyai amplitudo maksimum 19 milimeter. Aktivitas tersebut berlangsung selama sekitar satu menit 14 detik. Selain lontaran material vulkanik dari kawah, petugas mengamati adanya lelehan lava segar yang mengalir ke sektor tenggara. Jarak aliran lava tersebut mencapai sekitar 500 meter dari bibir kawah utama.
Meski kembali mengalami erupsi, status aktivitas Gunung Ili Lewotolok belum mengalami perubahan dan tetap berada pada Level II atau Waspada. Badan Geologi meminta masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat erupsi. Pembatasan juga berlaku pada zona sektoral sejauh tiga kilometer menuju arah selatan dan tenggara. Masyarakat diminta terus mengikuti rekomendasi resmi karena aktivitas gunung masih berpotensi berubah.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai tidak hanya berasal dari lontaran abu vulkanik. Badan Geologi mengingatkan adanya kemungkinan guguran atau longsoran lava serta awan panas pada sejumlah sektor. Area yang perlu mendapatkan perhatian meliputi sektor selatan, tenggara, barat hingga timur laut. Warga yang tinggal di sekitar jalur potensi bahaya diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik.
Aktivitas Ili Lewotolok sendiri masih cukup intensif dalam beberapa hari terakhir. Pada 1 Oktober 2026, tercatat sebanyak 183 kejadian erupsi dalam periode pengamatan 24 jam, menurun dibandingkan 248 kejadian pada 29 September. Tinggi erupsi pada periode tersebut teramati berkisar 100 hingga 500 meter di atas puncak. Munculnya kembali aliran lava pada Jumat malam menunjukkan aktivitas gunung tetap perlu mendapatkan perhatian meskipun frekuensi letusan sebelumnya sempat menurun.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik yang berpotensi mengganggu saluran pernapasan. Tempat penampungan air bersih dianjurkan ditutup rapat agar tidak terkontaminasi material abu. Warga di sekitar Ili Lewotolok diminta tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya meskipun tidak melihat aktivitas erupsi secara langsung. Pemantauan terhadap perkembangan Gunung Ili Lewotolok terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas berikutnya.





