Solok, 23 September 2026 – Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, membuat warga terdampak harus meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman. Sebagian warga memilih mengungsi ke markas kepolisian setelah permukiman mereka terdampak material banjir. Aparat kepolisian membuka fasilitas yang tersedia untuk menampung masyarakat selama kondisi belum sepenuhnya pulih. Personel juga dikerahkan membantu proses evakuasi, pembersihan, dan distribusi kebutuhan dasar. Penanganan darurat terus dilakukan bersama pemerintah daerah serta unsur terkait lainnya.
Banjir bandang atau galodo melanda Solok pada Senin, 21 September 2026 setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut. Aliran air membawa lumpur, kayu, batu, dan material lainnya hingga memasuki permukiman serta merusak sejumlah fasilitas. Sejumlah akses jalan juga sempat terganggu akibat material yang menutup badan jalan. Kondisi tersebut membuat mobilitas warga dan petugas di beberapa titik menjadi terbatas. Proses pembersihan kemudian dilakukan secara bertahap menggunakan tenaga personel dan alat berat.
Polres Solok Kota menjadi salah satu lokasi yang dimanfaatkan untuk membantu warga terdampak. Kepolisian menyiapkan ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk beristirahat sementara setelah meninggalkan rumah mereka. Bantuan makanan, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya juga disalurkan kepada pengungsi. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pelayanan darurat kepada masyarakat yang terdampak bencana. Aparat memastikan fasilitas kepolisian dapat digunakan selama warga masih membutuhkan tempat aman.
Dampak banjir bandang tidak hanya dirasakan masyarakat di kawasan permukiman. Sedikitnya 11 kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan air dan material. Selain itu, sekitar 21 mobil dan tujuh sepeda motor turut terdampak. Kendaraan yang berada di kawasan terdampak sebagian terseret atau tertimbun material yang dibawa arus. Kerusakan tersebut menambah pekerjaan petugas dalam proses pemulihan setelah banjir surut.
Tim gabungan juga masih melakukan pencarian terhadap warga yang dilaporkan hilang setelah banjir bandang. Pada Selasa, 22 September, seorang korban bernama Dafi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban ditemukan sekitar pukul 13.30 WIB setelah tim melakukan penyisiran dari lokasi awal korban dilaporkan hilang. Posisi penemuan disebut berjarak sekitar 4,5 kilometer dari titik awal. Setelah ditemukan, jenazah kemudian dievakuasi oleh tim gabungan untuk diserahkan kepada keluarga.
Pencarian tidak berhenti setelah ditemukannya Dafi karena masih terdapat warga lain yang dilaporkan belum ditemukan. Tim SAR bersama TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat melanjutkan penyisiran di sepanjang jalur yang diperkirakan dilalui arus banjir. Kondisi medan yang dipenuhi lumpur dan material kayu menjadi salah satu tantangan bagi petugas. Pencarian dilakukan dengan membagi personel ke sejumlah titik untuk memperluas area penyisiran. Operasi akan terus disesuaikan dengan kondisi lapangan dan perkembangan informasi dari masyarakat.
Kepolisian juga mengerahkan ratusan personel untuk membantu penanganan pascabencana. Sekitar 300 personel Brimob dilibatkan untuk memperkuat proses evakuasi, pencarian, pembersihan material, serta pelayanan kepada warga terdampak. Personel ditempatkan di sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan cepat. Selain membantu masyarakat membersihkan rumah dan fasilitas, aparat turut menjaga akses agar kendaraan bantuan dapat bergerak menuju daerah terdampak. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur penanggulangan bencana.
Pemulihan akses jalan menjadi salah satu prioritas karena beberapa jalur sempat tertutup lumpur, kayu, dan bebatuan. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material yang menghambat kendaraan. Sejumlah ruas secara bertahap mulai dapat dilalui meskipun petugas tetap meminta pengendara berhati-hati. Pembersihan diperlukan agar distribusi logistik dan mobilitas tim penyelamat dapat berlangsung lebih cepat. Pemerintah daerah juga melakukan pendataan terhadap infrastruktur yang mengalami kerusakan untuk menentukan langkah perbaikan berikutnya.
Bagi warga yang mengungsi, kebutuhan mendesak mencakup makanan siap saji, air bersih, pakaian, perlengkapan tidur, serta kebutuhan kelompok rentan. Petugas kesehatan juga diperlukan untuk memantau kondisi masyarakat setelah terpapar air dan lumpur banjir. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit tertentu menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar. Pemerintah dan aparat meminta warga tidak kembali ke lokasi yang dinilai masih berbahaya sebelum kondisi dinyatakan aman. Potensi hujan susulan juga perlu diperhatikan selama proses penanganan berlangsung.
Penanganan banjir bandang di Solok kini memasuki tahap pencarian korban, pemenuhan kebutuhan pengungsi, dan pemulihan akses yang terdampak. Markas kepolisian tetap digunakan sebagai salah satu tempat sementara bagi warga yang membutuhkan perlindungan. Tim gabungan juga melanjutkan pembersihan permukiman dan fasilitas umum agar aktivitas masyarakat dapat berangsur pulih. Pendataan kerusakan masih dilakukan sehingga jumlah fasilitas maupun kerugian dapat mengalami perubahan. Pemerintah daerah bersama aparat meminta masyarakat tetap mengikuti arahan petugas sampai situasi di kawasan terdampak benar-benar dinyatakan aman.




