Jakarta, 28 September 2026 –
Telur menjadi salah satu makanan yang kerap dikonsumsi setiap hari karena praktis sekaligus kaya protein. Namun, muncul kekhawatiran bahwa kebiasaan makan telur setiap hari dapat membuat kadar gula darah melonjak, terutama pada orang dengan diabetes atau pradiabetes. Secara umum, telur sendiri bukan makanan yang menyebabkan lonjakan gula darah secara langsung karena kandungan karbohidratnya sangat rendah. Harvard Health bahkan mencatat makanan yang mengandung sedikit atau tanpa karbohidrat seperti telur memiliki beban glikemik mendekati nol.
Pengaruh suatu makanan terhadap gula darah sangat berkaitan dengan kandungan karbohidrat yang dikonsumsi dan komposisi makanan secara keseluruhan. Telur lebih banyak menyediakan protein dan lemak dibandingkan karbohidrat sehingga respons glukosa setelah mengonsumsinya biasanya berbeda dengan makanan tinggi karbohidrat sederhana. American Diabetes Association (ADA) memasukkan telur sebagai salah satu pilihan sumber protein. ADA juga menekankan bahwa pengaturan jumlah serta kualitas karbohidrat merupakan salah satu faktor penting dalam pengelolaan glukosa darah.
Sejumlah penelitian intervensi juga tidak menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah moderat otomatis meningkatkan gula darah. Tinjauan terhadap uji intervensi nutrisi pada individu dengan diabetes tipe 2 atau yang berisiko mengalaminya menemukan konsumsi sekitar enam hingga 12 telur per minggu tidak memberikan pengaruh merugikan terhadap glukosa puasa maupun insulin dalam studi yang melaporkan parameter tersebut. Meski demikian, para peneliti menekankan adanya perbedaan desain penelitian dan karakteristik peserta sehingga kesimpulannya tetap perlu dibaca dengan hati-hati.
Hal yang perlu diperhatikan justru makanan pendamping telur. Telur rebus yang dikonsumsi bersama sayuran dan sumber karbohidrat berkualitas tentu memiliki profil berbeda dengan telur yang disantap bersama nasi dalam porsi besar, roti manis, minuman berpemanis, atau makanan olahan tinggi karbohidrat. Protein dan lemak yang dikonsumsi bersama sumber karbohidrat bahkan dapat memperlambat pencernaan dan membantu pelepasan glukosa berlangsung lebih bertahap. Karena itu, peningkatan gula darah setelah sarapan bertelur belum tentu disebabkan oleh telurnya.
Hubungan antara kebiasaan makan telur dan risiko diabetes dalam jangka panjang memang lebih kompleks. Analisis terhadap 16 studi prospektif dengan lebih dari 589.000 peserta tidak menemukan hubungan keseluruhan yang jelas antara konsumsi telur dalam jumlah moderat dan risiko diabetes tipe 2. Namun, hasil penelitian berbeda menurut wilayah, dengan hubungan peningkatan risiko terlihat pada sejumlah studi di Amerika Serikat tetapi tidak pada kelompok studi Eropa maupun Asia. Perbedaan pola makan, gaya hidup, metode memasak, dan makanan yang biasa dikonsumsi bersama telur diduga dapat ikut memengaruhi hasil tersebut.
Bagi orang yang memiliki diabetes, perhatian sebaiknya tidak hanya tertuju pada satu jenis makanan. Pola makan keseluruhan, porsi karbohidrat, aktivitas fisik, berat badan, obat yang digunakan, serta kondisi kesehatan masing-masing dapat memengaruhi kadar gula darah. Salah satu pendekatan yang direkomendasikan ADA adalah mengisi setengah piring dengan sayuran nontepung, seperempat dengan sumber karbohidrat berkualitas, dan seperempat lainnya dengan protein seperti ikan, ayam, tahu, atau telur. Pendekatan tersebut membantu menjaga komposisi makanan tetap lebih seimbang.
Dengan demikian, anggapan bahwa makan telur setiap hari pasti membuat gula darah melonjak tidak didukung oleh bukti yang ada. Telur mengandung sangat sedikit karbohidrat sehingga bukan pemicu utama kenaikan glukosa secara langsung, tetapi cara memasak, jumlah yang dikonsumsi, makanan pendamping, dan pola makan keseluruhan tetap penting diperhatikan. Orang dengan diabetes, kolesterol tinggi, atau kondisi kesehatan tertentu sebaiknya menyesuaikan konsumsi telur dengan kebutuhan individual dan arahan tenaga kesehatan. Memantau respons gula darah setelah makan juga dapat membantu mengetahui bagaimana tubuh masing-masing bereaksi terhadap pola makan sehari-hari.





