Jakarta, 16 September 2026 – Perempuan berinisial ANW mengungkap alasan dirinya berani masuk ke ruang privat yang disebut ditempati Betrand Peto di sebuah kelab malam kawasan SCBD, Jakarta Selatan. ANW merupakan pelapor dalam perkara dugaan tindak pidana kekerasan seksual yang kini menyeret nama penyanyi tersebut. Menurut keterangannya, keputusan masuk ke ruangan itu bermula dari tawaran seorang staf kelab yang meminta dirinya bersama rekannya ikut meramaikan room. ANW mengaku tidak mempunyai prasangka buruk ketika menerima tawaran tersebut. Terlebih, staf kelab disebut sempat meyakinkannya bahwa situasi di dalam ruangan aman. Keterangan ANW merupakan versi pelapor, sementara Betrand telah membantah tuduhan kekerasan seksual yang diarahkan kepadanya.
Peristiwa tersebut menurut ANW terjadi pada 12 September 2026 sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, dirinya datang ke salah satu tempat hiburan malam di kawasan SCBD bersama rekannya untuk bersantai dan bertemu teman-teman. ANW menyebut kunjungannya sejak awal tidak mempunyai hubungan dengan Betrand. Ketika sedang berada di kelab, seorang staf kemudian menghampiri mereka. Staf tersebut menawarkan agar ANW dan rekannya bergabung untuk meramaikan sebuah room yang disebut ditempati Betrand dan kelompoknya. Tawaran itulah yang menjadi awal ANW berada di ruangan tersebut.
ANW mengaku menerima ajakan karena tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan. Menurut keterangannya, staf yang mengarahkan mereka menuju room juga memberikan keyakinan bahwa kondisi di dalam aman. ANW dan rekannya kemudian diserahkan kepada seorang waiter laki-laki yang berada di ruangan tersebut. Mereka mendapatkan minuman dan bergabung dengan orang-orang yang telah berada di dalam. Situasi pada awalnya disebut berjalan seperti aktivitas hiburan malam biasa. Kondisi tersebut membuat ANW mengaku tidak mempunyai alasan untuk menduga akan terjadi persoalan.
Kuasa hukum ANW, Nathaniel Hutagaol, menyebut terdapat hampir 10 orang di dalam ruangan apabila staf turut dihitung. Kelompok yang berada bersama Betrand disebut terdiri atas beberapa laki-laki dan perempuan. Situasi yang ramai menjadi faktor lain yang membuat ANW tidak merasa sedang berada dalam kondisi berbahaya. Ia juga datang bersama rekannya dan bukan seorang diri. Karena itu, ANW merasa mempunyai cukup alasan untuk mempercayai keterangan staf mengenai keamanan ruangan. Persoalan menurut versinya baru muncul setelah situasi di dalam room berubah.
ANW mengatakan dirinya sempat meninggalkan ruangan untuk mengambil telepon genggam yang tertinggal di sofa luar. Ketika kembali, ia mendapati rekannya berinisial D tidak berada di tempat duduk karena sedang pergi ke toilet. ANW kemudian duduk di dalam ruangan sambil menunggu rekannya kembali. Pada periode tersebut, menurut keterangannya, Betrand kemudian mendekatinya. ANW mengaku diajak menuju area toilet dan pada awalnya mengira ajakan tersebut berkaitan dengan rekannya yang belum kembali. Dugaan tindak kekerasan seksual menurut versi ANW kemudian terjadi di sekitar area tersebut.
ANW selanjutnya melaporkan perkara itu kepada Polda Metro Jaya. Kuasa hukumnya menyatakan laporan dibuat pada 12 September 2026 dan mencantumkan nama Betrand Peto sebagai pihak yang dilaporkan atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual. Seorang pria berinisial WHA yang disebut sebagai rekan Betrand juga dilaporkan terkait dugaan penganiayaan terhadap rekan ANW. Dengan masuknya laporan tersebut, rangkaian peristiwa yang disampaikan ANW menjadi materi yang perlu diperiksa aparat. Keterangan pelapor, saksi, pihak terlapor, serta bukti pendukung menjadi bagian penting dalam menentukan konstruksi kejadian sebenarnya.
Betrand Peto kemudian muncul ke publik dan memberikan versi berbeda mengenai kejadian tersebut. Didampingi kuasa hukumnya, Betrand secara tegas membantah melakukan tindak kekerasan seksual sebagaimana dituduhkan. Ia mengatakan tidak mengenal ANW maupun rekannya sebelum pertemuan di tempat hiburan tersebut. Menurut Betrand, dirinya datang ke lokasi hanya untuk karaoke dan berkumpul bersama teman-temannya setelah selesai menjalani kegiatan syuting. Ia juga menyatakan tidak mempunyai agenda untuk bertemu ANW pada malam tersebut. Perbedaan keterangan antara pelapor dan terlapor membuat pemeriksaan aparat menjadi penting untuk menguji masing-masing versi.
Menurut penjelasan Betrand, keberadaan ANW dan rekannya di dalam room bukan karena undangan langsung darinya. Ia menyatakan perempuan tersebut masuk ketika dirinya sedang berkumpul bersama teman-teman. Keterangan ini tidak sepenuhnya bertentangan dengan bagian awal cerita ANW yang menyebut dirinya masuk setelah mendapatkan tawaran dari staf kelab, bukan undangan pribadi Betrand. Namun, kedua pihak mempunyai versi berbeda mengenai apa yang kemudian berlangsung di dalam ruangan dan area toilet. Betrand membantah melakukan tindakan seksual seperti yang dituduhkan kepadanya. Karena itu, dugaan dalam laporan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti.
Keterangan staf kelab berpotensi mempunyai posisi penting dalam penyelidikan. Staf disebut sebagai pihak yang pertama kali menawarkan ANW dan rekannya untuk bergabung dengan kelompok di room tersebut. Aparat dapat mendalami siapa yang memberikan instruksi untuk mencari orang yang akan meramaikan ruangan dan apakah praktik seperti itu merupakan bagian dari pelayanan tempat hiburan. Keterangan waiter yang berada di dalam juga dapat membantu merekonstruksi kondisi sebelum dugaan kejadian berlangsung. Selain itu, rekaman kamera pengawas di area yang relevan berpotensi membantu menguji pergerakan pihak-pihak yang berada di lokasi. Seluruh bukti tersebut perlu dinilai bersama dengan keterangan saksi.
Alasan ANW bersedia masuk ke room menjadi perhatian karena muncul pertanyaan mengenai mengapa dirinya menerima ajakan menuju ruang privat orang yang tidak dikenalnya. Berdasarkan keterangannya, jawabannya berkaitan dengan kepercayaan terhadap staf kelab serta situasi yang menurutnya terlihat aman. ANW menyatakan dirinya tidak mempunyai pikiran negatif ketika tawaran diberikan. Kehadiran rekannya serta sejumlah orang lain di ruangan juga membuat situasi pada awalnya tidak dianggap mengkhawatirkan. Ia mengaku baru menyadari adanya persoalan setelah rangkaian kejadian berikutnya berlangsung. Penjelasan tersebut menjadi bagian dari kesaksian pelapor dan masih harus diuji dalam proses hukum.
Kasus tersebut juga menunjukkan pentingnya membedakan keputusan seseorang memasuki sebuah ruangan dengan persetujuan terhadap tindakan lain yang mungkin terjadi setelahnya. Kesediaan bergabung dalam kegiatan sosial tidak dengan sendirinya dapat dianggap sebagai persetujuan terhadap aktivitas seksual. Dalam pemeriksaan perkara dugaan kekerasan seksual, aparat perlu melihat tindakan, komunikasi, persetujuan, serta keadaan para pihak ketika peristiwa yang dilaporkan berlangsung. Pada saat bersamaan, pihak yang dilaporkan tetap mempunyai hak untuk membantah dan memberikan bukti maupun keterangan pembelaan. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku selama belum terdapat putusan hukum yang berkekuatan tetap.
Penyidik kini mempunyai tugas merekonstruksi kejadian berdasarkan keterangan dari berbagai pihak dan bukti yang tersedia. Pernyataan ANW kepada publik merupakan satu versi mengenai peristiwa tersebut, sementara Betrand telah menyampaikan bantahan dan kronologinya sendiri. Perbedaan keterangan perlu diperiksa melalui prosedur hukum dan tidak dapat diselesaikan hanya berdasarkan perdebatan di ruang publik. Pemeriksaan terhadap saksi yang berada di room dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kondisi sebelum dan sesudah dugaan kejadian. Bukti elektronik maupun rekaman kamera pengawas, apabila tersedia, juga dapat mempunyai peranan dalam proses tersebut. Kesimpulan mengenai ada atau tidaknya tindak pidana menjadi kewenangan proses penegakan hukum.
Alasan ANW berani masuk ke room yang disebut ditempati Betrand Peto pada akhirnya menurut keterangannya adalah karena mendapat tawaran dari staf kelab dan diyakinkan bahwa situasi di dalam aman. Ia mengaku tidak mengenal Betrand secara pribadi dan tidak datang ke lokasi dengan tujuan menemuinya. ANW juga menyebut dirinya berada bersama rekan sehingga tidak mempunyai kecurigaan ketika menerima tawaran tersebut. Setelah rangkaian kejadian berikutnya, ANW membuat laporan atas dugaan tindak pidana kekerasan seksual. Betrand membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak melakukan tindakan sebagaimana yang dituduhkan. Kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi kini bergantung pada pemeriksaan saksi, bukti, serta proses hukum yang berjalan.




