Jakarta, 15 September 2026 – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia mendorong peningkatan investasi dalam penyediaan bahan baku pangan guna memperkuat keberlanjutan industri makanan dan minuman nasional. Investasi dinilai penting untuk memastikan kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi secara stabil seiring pertumbuhan produksi dan permintaan masyarakat. Ketersediaan pasokan yang memadai juga diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan produksi ketika terjadi perubahan harga maupun hambatan pada rantai pasok. Industri makanan dan minuman membutuhkan kepastian bahan baku karena kegiatan produksi berlangsung secara berkelanjutan. Penguatan investasi di sektor hulu diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Penyediaan bahan baku masih menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan biaya produksi perusahaan makanan dan minuman. Sejumlah komoditas dapat mengalami perubahan harga akibat kondisi cuaca, produksi, distribusi, maupun perkembangan pasar global. Ketika pasokan terbatas, perusahaan menghadapi kenaikan biaya yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga produk di tingkat konsumen. Investasi pada fasilitas produksi, pengolahan, dan penyimpanan dapat membantu menjaga ketersediaan bahan baku dalam jangka lebih panjang. Peningkatan produktivitas di tingkat hulu juga diperlukan agar kebutuhan industri dapat dipenuhi secara konsisten.
GAPMMI menilai penguatan industri bahan baku perlu melibatkan pemerintah, pelaku usaha, petani, dan berbagai pihak dalam rantai pasok. Kerja sama dapat diarahkan pada peningkatan produktivitas, penggunaan teknologi, pengembangan bibit, serta perbaikan sistem distribusi. Kepastian pasar bagi petani juga penting agar peningkatan produksi memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Industri dapat membangun kemitraan dengan produsen lokal untuk memperoleh bahan baku sesuai standar kualitas yang dibutuhkan. Pola tersebut sekaligus dapat memperkuat keterhubungan antara sektor pertanian dan industri pengolahan.
Investasi juga dibutuhkan untuk mengembangkan fasilitas pascapanen dan penyimpanan yang mampu menjaga kualitas komoditas. Sebagian bahan pangan memiliki karakter mudah rusak sehingga membutuhkan penanganan khusus setelah dipanen. Keterbatasan fasilitas dapat menyebabkan kehilangan hasil dan mengurangi jumlah bahan yang dapat dimanfaatkan industri. Pembangunan gudang, fasilitas pendingin, pengolahan awal, dan sistem transportasi yang lebih baik dapat mengurangi persoalan tersebut. Efisiensi rantai pasok akan membantu perusahaan memperoleh bahan dengan kualitas lebih stabil sekaligus mengurangi pemborosan.
Pemerintah memiliki peranan dalam menciptakan iklim investasi yang memberikan kepastian kepada pelaku usaha. Kemudahan perizinan, infrastruktur yang memadai, kebijakan perdagangan yang konsisten, serta dukungan terhadap pengembangan teknologi dapat mendorong investasi baru. Kebijakan juga perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan industri dan perlindungan terhadap produsen dalam negeri. Ketika produksi domestik mampu memenuhi kebutuhan dengan kualitas dan harga kompetitif, ketergantungan terhadap pasokan dari luar dapat dikurangi. Namun, proses tersebut membutuhkan pengembangan kapasitas secara bertahap dan berkelanjutan.
Dorongan GAPMMI terhadap investasi penyediaan bahan baku menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi industri makanan dan minuman nasional. Ketersediaan bahan baku yang stabil akan membantu perusahaan menjaga produksi, mengendalikan biaya, dan memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten. Investasi di sektor hulu juga berpotensi menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian dalam negeri. Kolaborasi antara industri, pemerintah, dan produsen lokal diperlukan agar pengembangan dilakukan sesuai kebutuhan pasar. Dengan rantai pasok yang semakin kuat, industri pangan Indonesia diharapkan memiliki ketahanan lebih baik menghadapi perubahan ekonomi maupun gangguan pasokan.




