Tomohon, 2 November 2026 – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Senin, 2 November 2026, sekitar pukul 16.13 WITA atau 15.13 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pusat gempa berada di daratan sekitar satu kilometer barat daya Tomohon dengan kedalaman 148 kilometer. Meskipun episenter berada di wilayah daratan Sulawesi Utara, getaran gempa turut dirasakan masyarakat di sejumlah daerah lain, termasuk Ternate, Maluku Utara, dan Minahasa. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena gelombang seismik mampu menjangkau wilayah yang cukup luas meskipun sumber gempa berada jauh di bawah permukaan bumi. BMKG menjelaskan bahwa gempa dipicu oleh aktivitas deformasi di dalam lempeng Laut Maluku yang merupakan bagian dari sistem tektonik aktif Indonesia timur. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami sehingga masyarakat pesisir tidak perlu melakukan evakuasi akibat ancaman tsunami dari kejadian ini. Kendati demikian, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan serta memastikan kondisi bangunan tetap aman sebelum kembali beraktivitas. BMKG+1
Berdasarkan informasi awal yang dirilis BMKG, gempa terjadi tepat pada pukul 15.13.10 WIB dengan koordinat episenter 1,31 derajat Lintang Utara dan 124,83 derajat Bujur Timur. Lokasi tersebut berada sekitar satu kilometer di sebelah barat daya Kota Tomohon, Sulawesi Utara. BMKG kemudian melakukan pemutakhiran parameter berdasarkan analisis tambahan terhadap data gelombang seismik yang diterima jaringan pemantauan. Hasil analisis menunjukkan magnitudo gempa menjadi 5,2 dengan lokasi episenter berada pada koordinat 1,28 derajat Lintang Utara dan 124,84 derajat Bujur Timur. Berdasarkan hasil pemutakhiran tersebut, pusat gempa berada sekitar empat kilometer barat daya Tomohon dengan kedalaman 135 kilometer. Perubahan parameter merupakan bagian dari proses analisis ilmiah untuk memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai karakteristik gempa. Data awal biasanya diterbitkan dalam waktu singkat agar masyarakat segera mengetahui kejadian, sedangkan hasil pemutakhiran menggunakan pengolahan informasi yang lebih lengkap. BMKG menegaskan bahwa masyarakat perlu memperhatikan informasi resmi karena angka magnitudo, koordinat, dan kedalaman dapat mengalami penyesuaian setelah proses analisis lanjutan. BMKG+1
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa Tomohon termasuk kategori gempa bumi menengah yang disebabkan oleh deformasi di dalam lempeng atau intraslab. Sumber gempa berkaitan dengan aktivitas lempeng Laut Maluku yang mengalami tekanan akibat interaksi tektonik di kawasan Indonesia bagian timur. Proses deformasi terjadi ketika batuan di dalam lempeng mengalami perubahan bentuk dan akumulasi tekanan hingga akhirnya melepaskan energi secara tiba-tiba. Energi tersebut merambat sebagai gelombang seismik yang kemudian menimbulkan getaran di permukaan bumi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki karakter pergerakan geser turun atau oblique normal. Mekanisme ini menggambarkan pergerakan batuan yang melibatkan kombinasi pergeseran mendatar dan penurunan pada bidang patahan. Wijayanto menerangkan bahwa karakteristik tersebut sesuai dengan aktivitas deformasi di dalam lempeng yang berada pada kedalaman menengah. Kondisi geologi yang kompleks di sekitar Laut Maluku membuat kawasan Sulawesi Utara dan wilayah sekitarnya memiliki potensi mengalami gempa dari berbagai kedalaman serta mekanisme pergerakan batuan. detikcom
Getaran gempa dilaporkan terasa di Kota Ternate, Maluku Utara, dengan intensitas mencapai II hingga III pada skala Modified Mercalli Intensity atau MMI. Pada intensitas III MMI, getaran umumnya dapat dirasakan secara nyata oleh orang yang berada di dalam rumah dan terkadang menyerupai guncangan ketika kendaraan berat melintas. Sementara itu, wilayah Minahasa di Sulawesi Utara melaporkan intensitas guncangan sebesar II MMI. Pada tingkat tersebut, getaran biasanya dirasakan oleh sebagian orang, terutama ketika sedang beristirahat atau berada dalam posisi diam. Benda-benda ringan yang digantung juga dapat terlihat bergerak akibat rambatan gelombang seismik. Perbedaan intensitas antara Ternate dan Minahasa menunjukkan bahwa kekuatan guncangan yang dirasakan masyarakat tidak selalu ditentukan oleh kedekatan geografis terhadap pusat gempa. Faktor kedalaman sumber, jalur rambatan gelombang, kondisi tanah, serta karakteristik bangunan dapat memengaruhi tingkat getaran di masing-masing wilayah. BMKG menggunakan laporan masyarakat dan hasil pemantauan sensor untuk menyusun informasi intensitas yang membantu menggambarkan dampak gempa di permukaan. BMKG+1
BMKG memastikan gempa yang mengguncang Tomohon tidak memiliki potensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan setelah kejadian. Kesimpulan tersebut mempertimbangkan lokasi sumber gempa, kedalaman hiposenter, serta mekanisme pergerakan batuan yang teridentifikasi. Meskipun memiliki magnitudo 5,3 pada laporan awal, sumber gempa berada cukup dalam sehingga tidak menunjukkan karakteristik yang dapat memicu perubahan besar pada dasar laut. Gempa yang berpotensi menghasilkan tsunami umumnya berkaitan dengan perpindahan massa air laut secara tiba-tiba akibat perubahan dasar laut atau mekanisme lainnya. Dalam peristiwa Tomohon, hasil analisis BMKG tidak menunjukkan kondisi yang mengarah pada ancaman tersebut. Selain itu, hingga pukul 15.30 WIB, hasil pemantauan BMKG belum mendeteksi adanya aktivitas gempa susulan setelah guncangan utama terjadi. Namun, ketiadaan gempa susulan pada waktu pemantauan awal tidak berarti aktivitas seismik berikutnya dapat dipastikan tidak akan terjadi. BMKG menyatakan akan terus memantau perkembangan kegempaan dan menyampaikan informasi tambahan apabila terdapat perubahan situasi yang perlu diketahui masyarakat. BMKG+1
Secara geologis, Sulawesi Utara merupakan salah satu wilayah Indonesia yang dipengaruhi interaksi lempeng tektonik kompleks sehingga memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang relatif tinggi. Kawasan Laut Maluku berada di antara sistem tektonik yang melibatkan pergerakan lempeng serta zona penunjaman aktif. Interaksi tersebut menghasilkan tekanan pada batuan di berbagai kedalaman dan dapat memicu pelepasan energi dalam bentuk gempa bumi. Gempa Tomohon memperlihatkan bahwa sumber gempa yang berada di bawah daratan tidak selalu berasal dari patahan dangkal di sekitar permukaan. Dalam kejadian ini, proses deformasi berlangsung jauh di dalam lempeng yang mengalami tekanan tektonik. Karakteristik tersebut menjelaskan mengapa gempa berkedalaman menengah dapat dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh dari episenter. Meskipun intensitas guncangan yang dilaporkan tergolong ringan hingga sedang, masyarakat tetap perlu memahami bahwa wilayah tempat tinggalnya berada dalam kawasan dengan potensi aktivitas seismik berulang. Pemahaman terhadap kondisi geologi dan penerapan standar bangunan tahan gempa menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan maupun korban apabila terjadi gempa yang lebih kuat pada masa mendatang.
Menanggapi kejadian tersebut, BMKG mengimbau masyarakat Tomohon, Minahasa, Ternate, dan daerah sekitarnya untuk tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga diminta memeriksa kondisi bangunan apabila menemukan retakan atau kerusakan setelah guncangan, terutama pada bagian struktur yang berfungsi menopang rumah. Bangunan yang mengalami kerusakan serius sebaiknya tidak digunakan sampai dipastikan aman oleh pihak yang memiliki kompetensi teknis. Masyarakat juga perlu memahami langkah perlindungan diri ketika gempa terjadi, termasuk berlindung dari benda yang berpotensi jatuh dan menghindari tindakan panik yang dapat meningkatkan risiko cedera. Informasi resmi mengenai aktivitas gempa dapat diperoleh melalui situs dan aplikasi BMKG yang menyampaikan hasil pemantauan secara berkala. Pemerintah daerah bersama instansi penanggulangan bencana diharapkan terus memperhatikan kondisi masyarakat untuk memastikan apabila terdapat dampak yang membutuhkan penanganan. Gempa magnitudo 5,3 di Tomohon menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan perlu terus dilakukan meskipun suatu kejadian telah dinyatakan tidak berpotensi tsunami. Dengan pemantauan berkelanjutan, informasi yang akurat, dan kesadaran masyarakat terhadap langkah keselamatan, risiko akibat aktivitas gempa bumi di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya dapat diminimalkan. detikcom+1




