Surabaya, 21 September 2026 – Pasukan elite TNI Angkatan Laut dari Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) bersama Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) Koarmada II berhasil mengevakuasi tiga jenazah korban KM Virgo Transport 8 dari dalam bangkai kapal di Perairan Masalembo, Laut Jawa. Operasi bawah laut tersebut berlangsung dengan tingkat risiko tinggi karena para penyelam harus memasuki bagian dalam kapal yang telah berada di dasar laut. Ketiga korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan terdiri atas dua laki-laki serta satu perempuan. Proses penyelaman dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena kondisi kapal yang tenggelam membuat akses menuju kabin sangat terbatas. Tim harus memastikan jalur masuk dan keluar tetap dapat digunakan selama proses evakuasi. Keselamatan penyelam menjadi prioritas utama di tengah upaya menemukan korban yang masih berada di dalam kapal.
Operasi tersebut dipimpin On Scene Commander sekaligus Danguskamla Koarmada II Laksamana Pertama TNI Edy Setyawan. TNI AL mengerahkan unsur KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Canopus-936, dan KRI Pulau Fani-731 untuk mendukung kegiatan pencarian dan evakuasi. RHIB dan sekoci digunakan untuk membawa personel Kopaska serta Koppeba mendekati titik tenggelamnya kapal sebelum penyelaman dilakukan. Tim kemudian turun menuju bangkai KM Virgo Transport 8 dan memeriksa bagian-bagian kapal yang berpotensi menjadi lokasi korban terjebak. Penyelaman berlangsung selama beberapa jam dengan memperhitungkan kondisi arus, jarak pandang, serta struktur kapal. Operasi tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pencarian korban setelah bangkai kapal ditemukan di dasar Laut Jawa.
Tantangan terbesar muncul ketika tim harus memasuki interior kapal. Posisi bangkai dan kondisi ruangan membuat akses menuju kabin tidak dapat dilakukan melalui jalur biasa. Para penyelam akhirnya harus memecahkan kaca jendela kapal untuk membuat akses masuk menuju ruangan tempat korban ditemukan. Langkah tersebut dilakukan setelah tim mempertimbangkan kondisi struktur dan keselamatan selama berada di bawah permukaan. Setelah jalur terbuka, penyelam memasuki bagian kapal dan menemukan tiga jenazah. Satu per satu korban kemudian dikeluarkan dari bangkai kapal dan dibawa menuju permukaan.
Operasi di dalam kapal tenggelam memiliki risiko berbeda dibandingkan penyelaman di perairan terbuka. Ruangan sempit, benda-benda yang bergeser, kabel, pecahan kaca, serta bagian konstruksi kapal dapat menjadi bahaya bagi penyelam. Jarak pandang yang terbatas juga dapat membuat orientasi di dalam bangkai kapal menjadi lebih sulit. Karena itu, personel Kopaska dan Koppeba harus menggunakan prosedur khusus serta menjaga koordinasi dengan tim pendukung di permukaan. Durasi penyelaman juga harus diperhitungkan agar personel tidak berada terlalu lama pada kedalaman tertentu. Setiap tahapan evakuasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi penyelam sekaligus memastikan jenazah korban dapat dibawa keluar dengan aman.
Setelah berhasil dikeluarkan dari bangkai kapal, ketiga jenazah dibawa menuju KRI I Gusti Ngurah Rai-332. Kapal perang tersebut selanjutnya bergerak menuju perairan Banjarmasin untuk membawa korban ke daratan. Jenazah kemudian menjalani tahapan identifikasi sebelum dapat diserahkan kepada keluarga masing-masing. Proses identifikasi melibatkan pencocokan data ante mortem yang diberikan keluarga dengan data post mortem dari korban. Hingga 19 September 2026, sembilan korban meninggal KM Virgo Transport 8 telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. Proses tersebut terus berjalan setiap kali tim SAR menemukan korban baru.
Selain melakukan evakuasi, personel Koppeba mendokumentasikan kondisi bangkai KM Virgo Transport 8 menggunakan kamera bawah air. Dokumentasi diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai posisi kapal, kondisi interior, serta kemungkinan lokasi lain yang dapat diperiksa pada penyelaman berikutnya. Rekaman tersebut juga membantu tim merencanakan jalur masuk yang lebih aman ketika operasi dilanjutkan. Pemeriksaan visual menjadi penting karena bangkai kapal berada di kedalaman sekitar 30 meter dengan posisi yang menyulitkan proses pencarian. Tim tidak dapat memasuki seluruh bagian kapal sekaligus karena setiap ruangan memiliki tingkat risiko berbeda. Data dari penyelaman sebelumnya kemudian digunakan untuk menentukan prioritas pencarian berikutnya.
Berdasarkan data operasi SAR hingga 19 September, sebanyak 117 orang telah berhasil dievakuasi dari total 243 penumpang dan awak yang tercatat dalam data manifes. Dari jumlah tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan sembilan lainnya meninggal dunia, sementara 126 orang masih dalam pencarian pada saat pembaruan data tersebut. KM Virgo Transport 8 diketahui berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sebelum mengalami kecelakaan di Laut Jawa. Kapal juga membawa puluhan kendaraan roda dua dan roda empat milik penumpang. Besarnya jumlah orang yang masih belum ditemukan membuat operasi pencarian terus dilanjutkan. Tim gabungan tidak hanya melakukan penyelaman, tetapi juga penyisiran di permukaan dan kawasan perairan sekitar lokasi kecelakaan.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan kemudian memutuskan memperpanjang operasi pencarian selama tujuh hari. Perpanjangan dilakukan karena masih banyak korban yang belum ditemukan serta terdapat kemungkinan sebagian korban berada di sekitar maupun di dalam bangkai kapal. Operasi melibatkan berbagai unsur dengan kemampuan pencarian di permukaan, udara, dan bawah laut. Penyelaman akan dilakukan dengan mempertimbangkan cuaca, arus, gelombang, dan keselamatan personel. Kondisi bangkai juga terus dievaluasi karena perubahan posisi maupun struktur kapal dapat meningkatkan risiko bagi penyelam. Seluruh unsur SAR diharapkan dapat memaksimalkan periode tambahan tersebut untuk memperluas pencarian.
Keberhasilan Kopaska dan Koppeba memasuki KM Virgo Transport 8 memberikan akses baru dalam pencarian korban yang diduga masih terjebak di dalam kapal. Namun, setiap penyelaman membutuhkan perencanaan matang karena personel harus bekerja pada kedalaman sekitar 30 meter sekaligus memasuki ruang tertutup. Evakuasi tiga jenazah menunjukkan bahwa pemeriksaan interior bangkai kapal menjadi bagian penting dari operasi berikutnya. Tim SAR gabungan akan terus melakukan penyisiran dan penyelaman selama kondisi lapangan memungkinkan. Di tengah besarnya jumlah korban yang masih dicari, operasi tetap dilaksanakan dengan prinsip bahwa keselamatan personel penyelamat tidak boleh diabaikan. Pencarian akan terus diarahkan untuk menemukan korban sekaligus memberikan kepastian kepada keluarga yang masih menunggu kabar.



