Jakarta, 19 September 2026 – Kepolisian Brasil menangkap seorang pria berusia 33 tahun yang diduga sebagai pembunuh berantai setelah dikaitkan dengan sedikitnya 16 kasus pembunuhan di negara bagian Paraíba, wilayah timur laut Brasil. Pria bernama Jorlan Lopes da Silva itu ditangkap setelah aparat melakukan perburuan intensif di kawasan Vale do Mamanguape. Polisi menyebut rangkaian 16 pembunuhan yang sedang diselidiki terjadi sejak Mei 2026. Sebelas kasus di antaranya disebut telah diakui tersangka ketika menjalani pemeriksaan. Namun, penyidik masih bekerja untuk memastikan keseluruhan peran tersangka melalui bukti teknis dan penyelidikan terhadap kasus-kasus yang belum terpecahkan. Identitas para korban dan rincian lengkap mengenai cara pembunuhan dilakukan belum seluruhnya dipublikasikan oleh pihak berwenang.
Penangkapan Jorlan berlangsung tidak biasa karena ia ditemukan mengenakan pakaian perempuan yang diduga digunakan untuk menghindari pengenalan petugas. Polisi mengatakan tersangka mengenakan gaun dan wig hitam panjang ketika mencoba lolos dari pengejaran. Ia juga membawa seorang anak kecil dalam pelukannya saat ditemukan. Anak tersebut dipastikan tidak memiliki hubungan keluarga dengan tersangka dan kondisinya dilaporkan tidak mengalami luka fisik. Aparat masih menyelidiki bagaimana anak itu dapat berada bersama Jorlan ketika proses penangkapan berlangsung. Penyamaran tersebut dilakukan setelah petugas menggelar pengejaran selama lebih dari 30 jam di kawasan yang sebagian wilayahnya berupa area berhutan.
Kasus ini menjadi semakin luas setelah Jorlan memberikan pengakuan mengenai jumlah pembunuhan yang jauh lebih besar dibandingkan perkara yang saat ini dikaitkan kepadanya. Dalam pemeriksaan, ia mengklaim pernah terlibat dalam sekitar 80 pembunuhan sepanjang hidupnya. Kepolisian menegaskan angka tersebut belum dapat dianggap sebagai jumlah korban yang telah terverifikasi. Hingga saat ini, penyidik menyatakan memiliki dasar untuk mengaitkannya dengan 16 pembunuhan di wilayah tersebut, termasuk 11 kasus yang disebut diakuinya. Klaim mengenai puluhan korban lainnya akan diperiksa satu per satu untuk mengetahui apakah terdapat bukti yang dapat mendukung pengakuannya. Polisi juga berencana membuka kembali sejumlah perkara pembunuhan yang belum terpecahkan untuk mencari kemungkinan keterkaitan dengan tersangka.
Jorlan bahkan mengaku telah melakukan pembunuhan pertamanya ketika berusia 13 tahun. Kepada penyidik, ia memberikan sejumlah keterangan mengenai sejarah tindak kekerasan yang diklaim telah berlangsung selama bertahun-tahun. Polisi belum menerima seluruh pernyataan tersebut sebagai fakta karena proses verifikasi masih berjalan. Penyidik harus mencocokkan pengakuan tersangka dengan catatan kriminal, lokasi kejadian, hasil forensik dan keterangan saksi dari setiap perkara. Perbedaan antara klaim tersangka mengenai 80 pembunuhan dan 16 kasus yang saat ini dikaitkan kepadanya menjadi salah satu fokus utama penyelidikan. Karena itu, aparat berhati-hati agar pengakuan yang belum dibuktikan tidak langsung diperlakukan sebagai fakta hukum.
Menurut penyelidikan, sedikitnya 16 kasus yang kini dikaitkan dengan Jorlan terjadi setelah ia keluar dari penjara pada Mei 2026. Rangkaian pembunuhan tersebut terjadi dalam waktu relatif singkat di kawasan Vale do Mamanguape dan sekitarnya. Salah satu perkara yang sedang diperiksa adalah pembunuhan terhadap dua pedagang di Rio Tinto pada 1 Agustus 2026. Polisi menyebut telah mengumpulkan unsur berupa bukti teknis dan pengakuan dalam penyelidikan sejumlah kasus. Kendati demikian, proses hukum terhadap masing-masing perkara masih harus berjalan sebelum tanggung jawab pidana dapat dipastikan. Pihak berwenang juga berusaha memetakan pola kasus untuk mengetahui apakah seluruh pembunuhan dilakukan dengan modus yang sama atau melibatkan pihak lain.
Aparat Brasil turut menyelidiki kemungkinan keterlibatan tersangka dengan kelompok kriminal di wilayah tersebut. Polisi sebelumnya menggambarkan kelompok yang diduga berkaitan dengannya sebagai organisasi kriminal dengan tingkat kekerasan tinggi. Dua orang lain juga ditangkap dalam rangkaian operasi dan sedang diperiksa mengenai kemungkinan keterlibatan mereka dalam sejumlah kejahatan. Namun, Jorlan dalam pemeriksaan membantah mempunyai hubungan dengan faksi kejahatan terorganisasi. Ia mengklaim bertindak sendiri dan menyatakan para korban yang menjadi sasarannya berkaitan dengan dunia kriminal. Pernyataan tersebut merupakan versi tersangka dan belum menjadi kesimpulan penyidik mengenai motif maupun latar belakang seluruh pembunuhan.
Sebelum penangkapan terakhir, tersangka disebut pernah berhasil meloloskan diri ketika aparat berusaha menangkapnya. Dalam rangkaian operasi sebelumnya, petugas menemukan sejumlah barang yang kemudian menjadi bagian dari penyelidikan. Polisi menyita rompi antipeluru, bagian dari senjata api serta lebih dari 100 butir amunisi dari sebuah lokasi yang dikaitkan dengan tersangka. Setelah upaya penangkapan sebelumnya tidak berhasil, aparat memperluas pencarian dengan melibatkan polisi sipil, polisi militer dan unsur intelijen. Pencarian dilakukan di kawasan yang menyulitkan petugas karena tersangka disebut kerap menggunakan daerah berhutan sebagai tempat persembunyian. Operasi tersebut akhirnya mengarah pada penangkapan Jorlan saat ia menggunakan penyamaran.
Penyidik kini menghadapi pekerjaan besar untuk memeriksa klaim mengenai puluhan pembunuhan lain yang disampaikan tersangka. Sejumlah perkara lama dapat dibuka kembali apabila ditemukan kecocokan antara keterangan Jorlan dan bukti yang tersimpan dalam penyelidikan sebelumnya. Proses tersebut membutuhkan pemeriksaan dokumen, bukti forensik, keterangan keluarga korban serta informasi mengenai keberadaan tersangka pada waktu setiap kejahatan terjadi. Pengakuan seseorang saja tidak cukup untuk memastikan tanggung jawab atas seluruh kasus yang disebutkan. Polisi Brasil karena itu tetap menggunakan angka 16 pembunuhan sebagai jumlah kasus yang saat ini memiliki keterkaitan yang sedang dikonfirmasi oleh penyidik. Klaim 80 korban masih ditempatkan sebagai pernyataan tersangka yang memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Penangkapan Jorlan Lopes da Silva menjadi awal dari penyelidikan yang diperkirakan masih akan berkembang seiring pemeriksaan terhadap kasus-kasus lama. Polisi Paraíba akan menelusuri kemungkinan adanya korban lain sekaligus menentukan apakah tersangka bertindak sendiri atau memperoleh bantuan dari orang lain. Dua tersangka lain yang diamankan dalam operasi juga menjadi bagian dari penyelidikan mengenai jaringan kriminal di kawasan tersebut. Sementara itu, anak yang ditemukan bersama Jorlan ketika penangkapan telah mendapatkan penanganan dan dilaporkan dalam kondisi baik. Aparat menegaskan proses pencocokan antara pengakuan tersangka dan bukti setiap perkara akan menjadi kunci untuk memastikan jumlah korban sebenarnya. Hingga penyelidikan tersebut selesai, Jorlan tetap berstatus sebagai tersangka dan dugaan keterlibatannya dalam setiap kasus harus dibuktikan melalui proses hukum.




