Pamekasan, 17 September 2026 – Madura United dijatuhi sanksi denda sebesar Rp30 juta oleh Komite Disiplin PSSI menyusul insiden pelemparan makanan saat pertandingan melawan Persijap Jepara. Insiden tersebut terjadi dalam laga Super League 2026/2027 yang berlangsung di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, pada 6 September 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan, sebuah pisang dilempar dari tribun penonton menuju area bangku cadangan Persijap. Aksi itu terjadi ketika pertandingan telah memasuki menit ke-90+3. Komdis menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap ketentuan disiplin yang menjadi tanggung jawab klub tuan rumah. Madura United akhirnya harus menerima konsekuensi finansial akibat perilaku salah satu pendukungnya.
Pelemparan diketahui berasal dari Tribun Timur VIP bagian utara yang ditempati pendukung Madura United. Meskipun benda yang dilempar hanya berupa makanan, tindakan melempar benda menuju area pertandingan tetap dikategorikan sebagai pelanggaran disiplin. Komdis PSSI menyatakan terdapat bukti yang cukup untuk memastikan kejadian tersebut. Berdasarkan fakta pertandingan, satu buah makanan dilempar ke arah area bench Persijap Jepara menjelang laga berakhir. Tidak diperlukan adanya korban atau kerusakan untuk membuat tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran. Keamanan pemain, ofisial dan seluruh pihak di area pertandingan tetap menjadi tanggung jawab penyelenggara serta klub terkait.
Sanksi terhadap Madura United merujuk pada Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) juncto Lampiran 1 Nomor 5 Kode Disiplin PSSI Tahun 2025. Ketentuan tersebut mengatur tanggung jawab klub terhadap perilaku buruk penonton atau pendukung selama pertandingan berlangsung. Komdis kemudian menetapkan denda sebesar Rp30 juta kepada klub berjuluk Laskar Sape Kerrab tersebut. Madura United juga mendapatkan peringatan bahwa pengulangan pelanggaran serupa dapat mengakibatkan hukuman yang lebih berat. Artinya, klub harus meningkatkan pengawasan terhadap perilaku penonton pada pertandingan kandang berikutnya. Sanksi lanjutan dapat menjadi lebih besar apabila kejadian sejenis kembali ditemukan.
Manajemen Madura United turut mengumumkan hukuman tersebut kepada pendukung melalui kanal media sosial klub. Presiden Madura United Achsanul Qosasi kemudian mengingatkan suporter agar tidak lagi melakukan tindakan yang dapat merugikan tim. Menurutnya, denda Rp30 juta bukan jumlah kecil apabila dibandingkan dengan pemasukan klub dari penjualan tiket pertandingan. Nilai tersebut disebut setara dengan pendapatan dari sekitar seribu suporter yang membeli tiket untuk menyaksikan pertandingan. Karena itu, satu tindakan dari tribun dapat menghilangkan sebagian pendapatan yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan klub. Achsanul meminta seluruh kelompok pendukung lebih mampu mengendalikan diri ketika memberikan dukungan kepada tim.
Insiden tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa benda apa pun tidak seharusnya dilemparkan dari tribun menuju lapangan maupun area teknis. Larangan tersebut berlaku tidak hanya terhadap benda keras, flare atau barang berbahaya, tetapi juga makanan dan benda lain yang berpotensi mengganggu pertandingan. Penonton diharapkan menyalurkan dukungan melalui cara yang tidak menimbulkan risiko terhadap pemain maupun ofisial. Klub juga memiliki kewajiban memastikan pertandingan berlangsung aman sejak penonton memasuki stadion hingga meninggalkan kawasan pertandingan. Pengawasan petugas keamanan menjadi salah satu bagian yang perlu diperkuat untuk mencegah kejadian serupa. Edukasi terhadap pendukung juga dibutuhkan agar konsekuensi dari pelanggaran di tribun dapat dipahami bersama.
Pertandingan Madura United melawan Persijap sendiri berakhir dengan kemenangan 2-0 bagi tim tuan rumah. Hasil positif tersebut semestinya menjadi momentum bagi Laskar Sape Kerrab dalam memulai perjalanan mereka di kompetisi musim 2026/2027. Namun, insiden pada penghujung pertandingan membuat klub harus menghadapi proses disiplin setelah laga selesai. Kejadian tersebut tidak mengubah hasil pertandingan, tetapi memberikan konsekuensi finansial kepada Madura United. Manajemen kini berharap insiden serupa tidak kembali terjadi ketika tim menjalani pertandingan kandang berikutnya. Dukungan suporter tetap dianggap penting, tetapi harus diberikan dengan tetap menghormati aturan kompetisi.
Pengelolaan keamanan pertandingan menjadi perhatian penting karena klub dapat dikenai sanksi atas tindakan yang dilakukan pendukungnya. Sistem disiplin tersebut bertujuan mendorong setiap klub mengambil langkah pencegahan, termasuk memperketat pemeriksaan dan pengawasan di tribun. Koordinasi antara panitia pelaksana, petugas keamanan dan kelompok suporter menjadi bagian penting untuk menciptakan pertandingan yang tertib. Pendukung juga memiliki tanggung jawab karena tindakan individu dapat menimbulkan konsekuensi bagi klub secara keseluruhan. Dalam kasus Madura United, satu lemparan pisang saja telah menghasilkan denda puluhan juta rupiah. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa tindakan yang terlihat sederhana tetap dapat memberikan kerugian nyata bagi klub.
Madura United kini berharap sanksi Rp30 juta tersebut menjadi yang terakhir akibat tindakan suporter sepanjang musim ini. Manajemen meminta pendukung menjaga ketertiban sekaligus tidak melempar benda apa pun ke area lapangan maupun bangku cadangan tim. Peringatan Komdis mengenai kemungkinan hukuman lebih berat juga menjadi alasan klub meningkatkan kewaspadaan pada pertandingan berikutnya. Dukungan yang tertib dinilai akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan tindakan spontan yang berujung sanksi. Klub tetap membutuhkan kehadiran suporter untuk menciptakan atmosfer pertandingan sekaligus memberikan dukungan langsung kepada pemain. Dengan disiplin yang lebih baik di tribun, Madura United berharap dapat fokus mengejar prestasi tanpa harus kembali menanggung kerugian akibat pelanggaran penonton.






