Jakarta, 16 September 2026 – Bagas Maulana dan Apriyani Rahayu membuka babak baru dalam perjalanan karier mereka setelah resmi dipasangkan di sektor ganda campuran Indonesia. Kombinasi baru tersebut menjadi bagian dari racikan Kepala Pelatih Ganda Campuran Utama Pelatnas PBSI Nova Widianto yang sedang mencari komposisi terbaik untuk menghadapi persaingan internasional. Bagas sebelumnya lebih dikenal sebagai pemain ganda putra, sedangkan Apriyani telah lama berkiprah dan meraih berbagai prestasi di sektor ganda putri sebelum mulai mencoba nomor campuran. Perubahan tersebut membuat keduanya harus melakukan sejumlah penyesuaian, terutama mengenai pola permainan, pembagian area, komunikasi, dan chemistry di lapangan. Meski baru menjalani latihan bersama, Bagas dan Apriyani menunjukkan kesiapan untuk menghadapi tantangan tersebut. Mereka ingin memanfaatkan kepercayaan pelatih dengan membuktikan kemampuan melalui turnamen yang akan diikuti.
Bagas mengakui proses menyatukan pola permainan bukan perkara yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Sebagai pemain yang sebelumnya terbiasa tampil di ganda putra, ia harus memahami karakter permainan Apriyani yang mempunyai pengalaman berbeda. Hal serupa juga berlaku bagi Apriyani karena dirinya perlu beradaptasi dengan karakter pasangan baru. Perbedaan kebiasaan di nomor sebelumnya menjadi salah satu hal yang harus diselaraskan selama latihan. Keduanya karena itu memilih tidak memasang ekspektasi berlebihan pada tahap awal. Fokus utama mereka adalah membangun komunikasi dan memahami pergerakan masing-masing ketika berada di lapangan.
Pembentukan Bagas/Apriyani merupakan bagian dari perombakan yang dilakukan tim pelatih ganda campuran PBSI. Selain keduanya, Nova juga mencoba kombinasi Dejan Ferdinansyah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu serta M. Nawaf Khoiriyansyah/Indah Cahya Sari Jamil. Seluruh pasangan tersebut akan diberikan kesempatan tampil dalam sejumlah turnamen untuk melihat perkembangan mereka secara langsung. Tim pelatih belum menentukan kombinasi mana yang akan menjadi pasangan tetap dalam jangka panjang. Hasil pertandingan bukan satu-satunya indikator karena chemistry, komunikasi, pola permainan, dan konsistensi juga akan masuk dalam evaluasi. Proses tersebut menjadi bagian dari pencarian format ganda campuran Indonesia yang lebih kompetitif.
Bagas sebelumnya sempat dipasangkan dengan Indah Cahya Sari Jamil ketika mulai beralih ke nomor ganda campuran. Sementara Apriyani sempat berpasangan dengan Dejan Ferdinansyah setelah sebelumnya lebih banyak berkarier di ganda putri. Perubahan pasangan membuat keduanya datang dengan pengalaman adaptasi yang relatif baru di sektor campuran. Bagas kini harus kembali mempelajari karakter pasangan berbeda setelah sempat membangun pola bersama Indah. Apriyani juga menghadapi situasi serupa setelah sempat menjalani pertandingan bersama Dejan. Meski demikian, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mempercepat proses penyesuaian ketika keduanya mulai bermain bersama.
Bagas menilai kepercayaan yang diberikan tim pelatih harus dimanfaatkan secara maksimal. Ia memahami PBSI membutuhkan pasangan pelapis yang mampu meningkatkan kedalaman kekuatan Indonesia di nomor ganda campuran. Kondisi tersebut membuat dirinya dan Apriyani mempunyai kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk menunjukkan kemampuan. Bagas juga menegaskan fokusnya kini diarahkan sepenuhnya pada nomor ganda campuran. Perubahan sektor membuat ia harus meninggalkan sejumlah kebiasaan ketika masih bermain di ganda putra. Ia berharap proses tersebut dapat menghasilkan perkembangan positif dan membuka kesempatan memperoleh prestasi baru.
Pengalaman Bagas di ganda putra menjadi salah satu modal yang dapat dibawa ke pasangan baru. Ia mempunyai kemampuan permainan depan dan belakang serta terbiasa menghadapi reli cepat dengan tempo tinggi. Namun, pola ganda campuran mempunyai karakter berbeda karena pembagian peran dapat berubah mengikuti situasi pertandingan. Bagas harus belajar menentukan kapan mengambil kendali dari belakang dan kapan memberikan ruang kepada Apriyani di depan. Komunikasi menjadi penting agar keduanya tidak kehilangan posisi ketika menghadapi tekanan lawan. Latihan menjadi kesempatan untuk mengembangkan pola yang paling sesuai dengan kelebihan masing-masing pemain.
Apriyani di sisi lain membawa pengalaman panjang sebagai salah satu pemain ganda putri Indonesia. Pengalamannya menghadapi turnamen besar memberikan nilai tambahan ketika harus membangun pasangan baru. Ia dikenal mempunyai daya juang tinggi, kemampuan bertahan, serta keberanian menghadapi reli panjang. Karakter tersebut dapat menjadi elemen penting dalam kombinasi bersama Bagas. Namun, Apriyani tetap membutuhkan adaptasi karena pola ganda campuran berbeda dengan ganda putri yang selama bertahun-tahun menjadi spesialisasinya. Perubahan tersebut membuat dirinya harus mempelajari kembali posisi dan ritme permainan ketika berdampingan dengan pemain putra.
Bagas dan Apriyani juga memahami bahwa proses membangun chemistry tidak hanya berlangsung selama pertandingan. Komunikasi ketika latihan menjadi bagian penting untuk mengetahui kebiasaan masing-masing. Pemain perlu memahami jenis bola yang nyaman bagi pasangan, pola rotasi yang efektif, serta cara mengambil keputusan ketika berada dalam tekanan. Kesalahan koordinasi dapat memberikan keuntungan besar kepada lawan, terutama pada level internasional yang mempunyai tempo permainan tinggi. Karena itu, keduanya membutuhkan waktu untuk menciptakan pola yang dapat berjalan secara otomatis. Semakin sering menjalani latihan dan pertandingan bersama, semakin banyak pula informasi yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi.
Debut Bagas/Apriyani direncanakan berlangsung pada Indonesia International Challenge 2026 di Surabaya. Turnamen tersebut akan menjadi kesempatan pertama bagi tim pelatih melihat bagaimana pola latihan mereka diterapkan dalam pertandingan kompetitif. Situasi pertandingan tentunya berbeda dibandingkan sesi latihan karena pemain harus menghadapi tekanan skor dan karakter lawan yang berubah. Hasil turnamen dapat memberikan gambaran mengenai bagian permainan yang sudah berjalan maupun aspek yang masih membutuhkan perbaikan. Bagas dan Apriyani tidak ingin menjadikan status pasangan baru sebagai alasan untuk tampil tanpa target. Mereka tetap berusaha menghasilkan permainan terbaik sejak pertandingan pertama.
Nova Widianto sebelumnya menegaskan bahwa seluruh kombinasi baru akan mendapatkan kesempatan menunjukkan kemampuan. Pelatih ingin melihat proses sebelum mengambil keputusan mengenai pasangan yang dianggap paling tepat. Evaluasi akan dilakukan berdasarkan beberapa turnamen dan bukan hanya satu pertandingan. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi Bagas dan Apriyani untuk berkembang tanpa harus langsung menghasilkan performa sempurna. Pada saat yang sama, persaingan internal juga membuat setiap pasangan dituntut menunjukkan perkembangan. Tujuan akhirnya adalah mendapatkan beberapa kombinasi yang mampu bersaing secara konsisten di level internasional.
Perombakan tersebut juga menjadi bagian dari program jangka panjang sektor ganda campuran menuju Road to Olympic. Indonesia membutuhkan kedalaman pemain agar tidak bergantung kepada satu pasangan ketika menghadapi rangkaian turnamen internasional. Kehadiran beberapa duet kompetitif dapat meningkatkan persaingan sekaligus memberikan pilihan lebih luas kepada tim pelatih. Bagas dan Apriyani mempunyai pengalaman serta kemampuan individual yang telah teruji di sektor masing-masing. Tantangannya sekarang adalah menggabungkan kemampuan tersebut menjadi satu sistem permainan yang efektif. Jika proses adaptasi berjalan baik, kombinasi keduanya dapat memberikan alternatif baru bagi sektor ganda campuran Indonesia.
Status sebagai pemain berpengalaman tidak membuat Bagas dan Apriyani terbebas dari proses belajar. Keduanya justru harus menyesuaikan sejumlah aspek dasar karena karakter ganda campuran berbeda dengan sektor yang sebelumnya mereka jalani. Perubahan posisi, pola servis dan pengembalian, rotasi, hingga strategi menghadapi pasangan dengan karakter berbeda perlu dipelajari secara bertahap. Pengalaman pertandingan akan menjadi bagian penting untuk mempercepat proses tersebut. Bagas dan Apriyani juga dapat menggunakan setiap turnamen sebagai bahan untuk memperbaiki komunikasi. Tim pelatih kemudian akan menentukan perkembangan mereka berdasarkan performa secara keseluruhan.
Duet Bagas Maulana/Apriyani Rahayu pada akhirnya menjadi salah satu eksperimen menarik dalam perombakan sektor ganda campuran Indonesia. Keduanya membawa pengalaman besar dari ganda putra dan ganda putri, tetapi kini menghadapi tantangan membangun pola permainan baru bersama. Indonesia International Challenge 2026 di Surabaya akan menjadi panggung awal untuk menguji hasil latihan mereka dalam pertandingan sesungguhnya. Bagas dan Apriyani menyadari chemistry membutuhkan waktu, tetapi keduanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan tim pelatih. Target terdekat mereka adalah tampil maksimal sekaligus menunjukkan bahwa kombinasi baru tersebut mempunyai potensi untuk berkembang. Jika proses adaptasi berlangsung positif, Bagas/Apriyani berpeluang menambah pilihan kompetitif Indonesia di sektor ganda campuran.




