Pandeglang, 18 September 2026 – Polda Banten memberikan penjelasan mengenai jejak sinyal telepon seluler milik salah satu jurnalis yang hilang bersama rombongan speedboat Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda. Ponsel tersebut diketahui milik Firdaus Wajidi atau Daus, jurnalis Anadolu Agency yang menjadi salah satu dari lima jurnalis dalam rombongan. Berdasarkan pemeriksaan jaringan telekomunikasi, nomor Daus sempat terdeteksi oleh menara BTS di sekitar Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan. Aktivitas tersebut tercatat pada Senin, 7 September 2026, sebelum rombongan dinyatakan hilang kontak. Polisi menegaskan temuan itu merupakan rekaman aktivitas terakhir perangkat ketika masih terhubung dengan jaringan, bukan bukti bahwa pemilik ponsel berada di Pulau Sebesi setelah dinyatakan hilang. Hingga 17 September, perangkat tersebut sudah tidak lagi terdeteksi dalam kondisi aktif.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea mengatakan pengecekan terhadap nomor telepon para penumpang dilakukan sebagai bagian dari upaya mendapatkan petunjuk mengenai posisi terakhir rombongan. Dari pemeriksaan tersebut, nomor milik Daus diketahui masih menghasilkan jejak elektronik pada hari rombongan kehilangan komunikasi. Ponsel itu menggunakan jaringan seluler yang terhubung dengan BTS di kawasan Pulau Sebesi. Aktivitas elektronik dapat berupa sambungan telepon maupun penggunaan layanan berbasis data seperti WhatsApp. Catatan jaringan itulah yang kemudian menjadi salah satu informasi untuk membantu menentukan wilayah pencarian. Namun, data BTS mempunyai keterbatasan sehingga tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan titik keberadaan seseorang secara presisi.
Polisi menjelaskan menara BTS di Pulau Sebesi mempunyai jangkauan sinyal sekitar tiga kilometer. Artinya, perangkat yang terhubung dengan BTS tersebut tidak harus berada tepat di daratan Pulau Sebesi karena masih dapat berada dalam radius jangkauan jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menjadi penting untuk menjelaskan informasi yang sempat berkembang mengenai ponsel jurnalis yang disebut terdeteksi di pulau itu. Data telekomunikasi menunjukkan perangkat berkomunikasi dengan jaringan BTS di kawasan Sebesi, tetapi tidak secara otomatis menunjukkan koordinat persis perangkat. Karena itu, petunjuk tersebut tetap harus dipadukan dengan informasi lain seperti rute perjalanan kapal, kondisi laut, dan hasil penyisiran tim pencarian. Hingga pemeriksaan terbaru, ponsel Daus tidak lagi menghasilkan sinyal yang dapat dilacak.
Jejak ponsel tersebut berkaitan dengan hilangnya lima jurnalis dan tiga kru yang melakukan perjalanan untuk tugas jurnalistik di sekitar Gunung Anak Krakatau. Rombongan menggunakan speedboat Arupadhatu 1 sebelum komunikasi dengan mereka terputus pada 7 September 2026. Lima jurnalis yang berada dalam rombongan adalah M Bagus Khoirunnas, Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Donal Husni. Sementara tiga orang lainnya merupakan kru kapal yang terdiri atas kapten, anak buah kapal, dan pemandu. Hilangnya komunikasi kemudian memicu operasi pencarian besar di kawasan Selat Sunda. Sejumlah wilayah perairan dan pulau di sekitar rute perjalanan mereka diperiksa berdasarkan informasi terakhir yang tersedia.
Informasi mengenai Pulau Sebesi sebelumnya juga telah disampaikan Kementerian Komunikasi dan Digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menjelaskan pihaknya berkoordinasi dengan operator seluler untuk menelusuri jejak perangkat yang digunakan rombongan. Data dari jaringan telekomunikasi kemudian diserahkan kepada tim SAR sebagai bahan pendukung operasi pencarian. Berdasarkan penelusuran tersebut, sinyal terakhir terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi pada 7 September, sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyisiran di kawasan yang dianggap relevan. Meski demikian, pemeriksaan lapangan belum menemukan keberadaan rombongan berdasarkan jejak sinyal tersebut.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad sebelumnya juga menjelaskan informasi sinyal dari Pulau Sebesi telah diterima pada tahap awal pencarian. Namun, data tersebut harus ditafsirkan secara hati-hati karena tidak serta-merta menunjukkan posisi aktual pemilik ponsel ketika informasi diterima. Tim pencarian tetap melakukan penyisiran terhadap Pulau Sebesi dan kawasan perairan di sekitarnya sebagai tindak lanjut. Kemungkinan adanya pembacaan sinyal yang tidak menggambarkan lokasi aktual juga menjadi pertimbangan. Karena itulah operasi pencarian tidak hanya dipusatkan pada satu titik berdasarkan data telekomunikasi. Area pencarian diperluas dengan mempertimbangkan kemungkinan pergerakan kapal dan dinamika arus laut di Selat Sunda.
Polda Banten kemudian memperjelas bahwa yang terlacak merupakan pancaran atau aktivitas terakhir ketika perangkat masih menyala. Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan anggapan bahwa aparat masih dapat memonitor pergerakan ponsel secara langsung setelah rombongan hilang kontak. Setelah aktivitas terakhir pada 7 September, komunikasi antara rombongan dan keluarga terputus. Hingga 17 September, ponsel Daus dinyatakan tidak aktif dan tidak lagi terhubung dengan jaringan yang dapat dideteksi. Kondisi itu membuat jejak telekomunikasi hanya dapat digunakan sebagai petunjuk mengenai aktivitas sebelum perangkat kehilangan koneksi. Polisi dan tim pencarian karena itu membutuhkan kombinasi data lain untuk melanjutkan penelusuran.
Temuan sinyal menjadi salah satu dari berbagai petunjuk yang diperoleh selama pencarian rombongan. Operasi SAR telah melibatkan unsur laut dan udara dengan penyisiran di kawasan Selat Sunda serta sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Petugas juga memeriksa berbagai benda yang ditemukan selama operasi untuk mengetahui apakah mempunyai hubungan dengan speedboat yang hilang. Setiap temuan harus diverifikasi sebelum dapat dinyatakan berkaitan dengan rombongan. Data telekomunikasi dari operator turut dipadukan dengan informasi lapangan untuk mempersempit kemungkinan rute terakhir kapal. Kondisi perairan yang luas membuat proses pencarian membutuhkan koordinasi antara berbagai instansi dan evaluasi secara berkala.
Kasus tersebut mendapatkan perhatian luas karena lima orang dalam rombongan merupakan pekerja media yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Mereka melakukan perjalanan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau ketika kemudian kehilangan komunikasi. Keluarga dan rekan-rekan para jurnalis terus menunggu kepastian mengenai keberadaan mereka selama operasi berlangsung. Informasi mengenai jejak ponsel di Pulau Sebesi sempat memberikan petunjuk baru, tetapi hasil penyisiran belum memberikan kepastian mengenai posisi rombongan. Aparat mengingatkan bahwa keberadaan sinyal pada sebuah BTS tidak boleh langsung disamakan dengan keberadaan fisik pemilik perangkat pada titik tersebut. Penjelasan teknis tersebut diperlukan agar perkembangan pencarian tidak menimbulkan kesimpulan yang belum didukung hasil pemeriksaan lapangan.
Jejak ponsel Daus akhirnya menjadi bagian penting dalam penyusunan kronologi terakhir sebelum speedboat Arupadhatu 1 kehilangan komunikasi. Aktivitas perangkat tercatat melalui jaringan BTS Pulau Sebesi pada 7 September, tetapi ponsel tersebut kemudian tidak lagi aktif. Jangkauan BTS sekitar tiga kilometer membuat data itu hanya memberikan gambaran wilayah, bukan koordinat presisi keberadaan pemilik ponsel. Tim pencarian telah menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan penyisiran di Pulau Sebesi dan kawasan sekitarnya. Polisi menegaskan data telekomunikasi harus dibaca bersama petunjuk lain agar tidak menghasilkan kesimpulan keliru mengenai posisi rombongan. Hingga penjelasan terakhir diberikan, keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal masih belum diketahui sehingga setiap informasi baru tetap memerlukan verifikasi sebelum digunakan untuk menentukan arah pencarian berikutnya.




