Jakarta, 2 September 2026 – Carissa Perusset membagikan pengalaman menarik setelah beradu akting dengan Pangeran Lantang dalam sebuah film horor. Keduanya diketahui terlibat dalam proyek yang menuntut banyak adegan dengan atmosfer mencekam dan tekanan emosional cukup tinggi. Carissa mengaku merasakan kedekatan khusus dengan Pangeran selama menjalani proses syuting hingga menyebut pengalaman tersebut sebagai trauma bonding. Istilah itu digunakan Carissa untuk menggambarkan ikatan yang muncul karena mereka bersama-sama melewati pengalaman yang intens selama berada di lokasi syuting. Meski dikaitkan dengan pengalaman menegangkan, Carissa menyampaikan ceritanya dalam konteks proses membangun chemistry sebagai rekan kerja di sebuah proyek film.
Pengalaman syuting film horor memang berbeda dibandingkan genre lain karena pemain tidak hanya dituntut memahami karakter, tetapi juga harus mampu mempertahankan emosi dalam situasi yang penuh ketegangan. Adegan tertentu bahkan mengharuskan para pemain berada dalam kondisi psikologis yang intens agar respons karakter terlihat meyakinkan. Situasi seperti itu membuat komunikasi dan rasa saling percaya antara pemain menjadi penting. Carissa dan Pangeran pun harus melewati berbagai adegan yang membutuhkan kerja sama erat. Pengalaman tersebut kemudian membuat hubungan profesional mereka berkembang menjadi kedekatan yang lebih kuat sebagai sesama pemain.
Carissa menjelaskan bahwa proses syuting membuat dirinya dan Pangeran menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Mereka harus menjalani pengambilan gambar dalam suasana yang dirancang untuk menimbulkan rasa takut dan ketidaknyamanan sesuai kebutuhan cerita. Ketika dua pemain menjalani pengalaman semacam itu secara berulang, rasa saling memahami dapat terbentuk dengan sendirinya. Kondisi tersebut membuat keduanya lebih mudah mengetahui respons dan batasan masing-masing ketika berada di depan kamera. Kedekatan tersebut kemudian membantu mereka membangun chemistry yang dibutuhkan untuk membuat hubungan antarkarakter terasa lebih natural.
Istilah trauma bonding yang disampaikan Carissa menjadi perhatian karena istilah tersebut sebenarnya memiliki konteks psikologis yang lebih spesifik. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah itu kerap dipakai untuk menggambarkan kedekatan yang terbentuk setelah dua orang melewati pengalaman sulit bersama. Namun, dalam konteks psikologi, trauma bonding memiliki pengertian yang berbeda dan berkaitan dengan ikatan emosional yang terbentuk dalam relasi yang melibatkan pola perlakuan menyakitkan atau kekerasan. Karena itu, pernyataan Carissa dalam konteks pengalaman syuting sebaiknya dipahami sebagai ungkapan mengenai kedekatan yang muncul setelah melewati pengalaman intens bersama, bukan sebagai diagnosis psikologis.
Bagi Carissa, pengalaman tersebut justru memberikan warna tersendiri dalam perjalanan kariernya sebagai aktris. Film horor menuntut pemain untuk mampu mengelola rasa takut sekaligus tetap mempertahankan karakter sesuai kebutuhan adegan. Tantangan tersebut membuat proses syuting menjadi pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika mengerjakan film bergenre drama atau komedi. Kehadiran lawan main yang dapat diajak bekerja sama secara intens juga membantu proses adaptasi di lokasi. Carissa dan Pangeran dapat saling mendukung ketika harus menjalani adegan yang membutuhkan energi emosional besar.
Chemistry antara kedua pemain menjadi salah satu elemen yang penting dalam film karena penonton harus dapat mempercayai hubungan yang ditampilkan di layar. Chemistry tidak selalu berarti hubungan romantis di luar layar, melainkan kemampuan dua aktor membangun interaksi yang sesuai dengan kebutuhan cerita. Dalam proses tersebut, latihan, komunikasi, dan pengalaman bersama selama syuting memiliki peran besar. Carissa tampaknya merasakan proses tersebut ketika bekerja bersama Pangeran dalam proyek horor mereka. Kedekatan yang terbentuk kemudian menjadi bagian dari pengalaman yang ia ceritakan kepada publik setelah proses produksi berlangsung.
Syuting film horor juga dapat menghadirkan tantangan teknis yang membutuhkan kesabaran para pemain. Adegan harus diulang berkali-kali untuk mendapatkan pencahayaan, kamera, ekspresi, dan pergerakan yang tepat. Situasi tersebut terkadang membuat pemain harus mempertahankan emosi yang sama meskipun proses pengambilan gambar berlangsung cukup lama. Ketika dilakukan bersama lawan main yang sama, pengalaman tersebut dapat menciptakan rasa kebersamaan yang kuat. Tidak mengherankan apabila pengalaman selama produksi kemudian menjadi salah satu cerita menarik yang dibagikan Carissa setelah film selesai dikerjakan.
Bagi penonton, pernyataan Carissa mengenai trauma bonding juga memberikan gambaran mengenai sisi lain proses produksi film yang jarang terlihat. Di balik adegan menegangkan yang hadir di layar, para pemain harus membangun suasana dan emosi melalui proses yang panjang. Hubungan kerja yang baik menjadi salah satu faktor yang membantu pemain menghadapi tuntutan tersebut. Carissa dan Pangeran pun memiliki pengalaman bersama yang membuat proses membangun karakter dalam film terasa lebih intens. Pengalaman itu akhirnya menjadi bagian dari cerita di balik layar yang menarik perhatian setelah keduanya menyelesaikan proyek tersebut.
Carissa Perusset kini melanjutkan perjalanan kariernya dengan pengalaman baru dari proyek film horor tersebut. Sementara itu, pernyataannya mengenai trauma bonding dengan Pangeran Lantang menunjukkan bagaimana pengalaman syuting yang intens dapat menciptakan kedekatan di antara para pemain. Ungkapan tersebut lebih tepat dilihat sebagai gambaran pengalaman profesional dan emosional selama menjalani produksi, tanpa langsung mengartikannya sebagai istilah klinis. Chemistry yang terbentuk selama proses tersebut diharapkan dapat terlihat dalam penampilan keduanya ketika film disaksikan penonton. Kisah di balik proses syuting itu pun menambah daya tarik bagi penonton yang ingin mengetahui bagaimana para pemain membangun hubungan dan karakter dalam sebuah film horor.





