Shenzhen, 22 Agustus 2026 – Pendiri raksasa properti China Evergrande Group, Hui Ka Yan atau Xu Jiayin, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen. Vonis tersebut dijatuhkan setelah pengadilan menyatakan Hui terbukti melakukan sejumlah kejahatan keuangan yang berkaitan dengan pengelolaan Evergrande. Selain hukuman penjara, seluruh harta pribadi Hui diperintahkan untuk disita dan hak politiknya dicabut seumur hidup. Putusan tersebut menjadi puncak dari proses hukum terhadap taipan yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Asia. Kejatuhan Hui sekaligus menggambarkan besarnya dampak krisis Evergrande terhadap sektor properti dan perekonomian China.
Hui didakwa dalam perkara yang mencakup penipuan penghimpunan dana, penyalahgunaan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, pemberian pinjaman ilegal, penipuan sekuritas, hingga suap. Ia sebelumnya telah mengakui kesalahan atas sejumlah dakwaan tersebut pada April 2026. Pengadilan kemudian menilai tindakan yang dilakukan Hui dan perusahaan yang dipimpinnya memiliki dampak ekonomi yang sangat besar. Perkara tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesalahan pengelolaan sebuah perusahaan, tetapi juga menyangkut manipulasi informasi keuangan dan penggunaan dana dalam skala besar. Karena itu, majelis hakim menjatuhkan hukuman berat kepada mantan taipan properti tersebut.
Salah satu persoalan utama dalam perkara Hui berkaitan dengan laporan keuangan Evergrande pada periode 2016 hingga 2021. Perusahaan tersebut dinilai melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan dengan menggelembungkan nilai aset dan menyembunyikan besarnya kewajiban yang sebenarnya. Langkah tersebut membuat kondisi keuangan Evergrande terlihat lebih sehat dibandingkan keadaan sebenarnya. Informasi keuangan yang telah dimanipulasi kemudian digunakan dalam aktivitas perusahaan untuk memperoleh pendanaan. Ketika kondisi sebenarnya terungkap, besarnya utang dan kewajiban Evergrande menjadi salah satu faktor yang mempercepat keruntuhan perusahaan.
Evergrande sebelumnya tumbuh sangat cepat seiring pesatnya perkembangan sektor properti China. Hui mendirikan perusahaan tersebut pada 1996 dan membawanya menjadi salah satu pengembang properti terbesar di negara tersebut. Bisnis Evergrande kemudian berkembang ke berbagai sektor, mulai dari properti hingga kendaraan listrik, kesehatan, keuangan, dan olahraga. Ekspansi agresif tersebut sebagian besar ditopang pembiayaan dalam jumlah besar. Ketika akses pembiayaan mulai diperketat dan kondisi pasar properti memburuk, struktur utang perusahaan yang sangat besar akhirnya menjadi persoalan serius.
Krisis Evergrande mulai semakin terbuka ketika perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban utangnya. Evergrande kemudian gagal membayar sejumlah kewajiban dan menjadi simbol krisis likuiditas yang melanda sektor properti China. Total kewajiban perusahaan ketika mengalami keruntuhan mencapai lebih dari US$300 miliar. Besarnya utang tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap perusahaan pemasok, pembeli rumah, investor, serta lembaga keuangan yang memiliki hubungan dengan Evergrande. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu krisis korporasi terbesar dalam sejarah sektor properti China.
Keruntuhan Evergrande juga berdampak terhadap masyarakat yang telah membeli rumah dari proyek-proyek perusahaan. Sejumlah proyek mengalami keterlambatan pembangunan karena perusahaan menghadapi kesulitan keuangan dan kekurangan dana. Situasi tersebut membuat pemerintah China harus menghadapi persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar kebangkrutan sebuah perusahaan. Penyelesaian proyek perumahan, perlindungan konsumen, stabilitas sektor keuangan, dan kepercayaan terhadap pasar properti menjadi persoalan yang saling berkaitan. Kasus Evergrande akhirnya menjadi salah satu contoh paling mencolok mengenai risiko ekspansi properti yang terlalu agresif dengan pembiayaan utang.
Selain hukuman terhadap Hui, pengadilan juga menjatuhkan denda dalam jumlah besar kepada perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Evergrande. Evergrande Group didenda 8,82 miliar yuan, sedangkan Hengda Real Estate yang merupakan anak usaha utamanya dikenai denda 7 miliar yuan. Total denda kedua perusahaan mencapai 15,82 miliar yuan. Hukuman tersebut diberikan berkaitan dengan berbagai pelanggaran, termasuk manipulasi laporan keuangan dan penyembunyian kewajiban perusahaan. Sejumlah eksekutif lain yang terlibat dalam perkara juga menerima hukuman penjara dengan durasi berbeda.
Vonis terhadap Hui juga memiliki makna penting dalam kebijakan pemerintah China terhadap sektor korporasi. Selama beberapa tahun terakhir, otoritas China meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan yang dinilai melakukan pelanggaran serius terhadap aturan keuangan. Kasus Evergrande menjadi salah satu contoh bahwa perusahaan dengan skala sangat besar sekalipun tetap dapat menghadapi konsekuensi hukum apabila terbukti melakukan pelanggaran. Penindakan tersebut juga menjadi pesan bagi perusahaan lain agar tidak memanipulasi informasi keuangan untuk memperoleh pendanaan. Stabilitas pasar dan kepercayaan investor menjadi salah satu alasan utama mengapa transparansi laporan keuangan menjadi perhatian besar.
Hui sendiri pernah menikmati puncak kejayaan sebagai salah satu taipan paling berpengaruh di China. Kekayaannya pernah mencapai puluhan miliar dolar ketika harga saham dan bisnis Evergrande berada dalam periode pertumbuhan pesat. Ia dikenal sebagai salah satu simbol keberhasilan pengusaha properti China dan pernah masuk jajaran orang terkaya di Asia. Namun, kekayaan tersebut kemudian anjlok seiring memburuknya kondisi Evergrande. Ketika perusahaan tidak mampu mempertahankan kewajiban keuangannya, posisi Hui berubah drastis dari seorang taipan properti menjadi terdakwa dalam perkara kejahatan keuangan.
Kasus Hui juga memperlihatkan bagaimana masalah di sebuah perusahaan besar dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi nasional. Evergrande memiliki hubungan dengan berbagai perusahaan konstruksi, pemasok material, lembaga keuangan, investor, dan konsumen. Ketika perusahaan mengalami krisis, dampaknya ikut menyebar ke jaringan bisnis tersebut. Perlambatan sektor properti juga memberikan tekanan terhadap perekonomian China karena sektor tersebut memiliki peran besar dalam aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan. Karena itu, proses hukum terhadap Hui berjalan bersamaan dengan berbagai upaya pemerintah untuk menangani dampak yang ditinggalkan oleh krisis Evergrande.
Dengan vonis seumur hidup dan penyitaan seluruh harta pribadi, perjalanan Hui Ka Yan sebagai pendiri Evergrande berakhir dengan hukuman yang sangat berat. Pengadilan menilai pelanggaran yang dilakukan memiliki skala besar dan menimbulkan dampak ekonomi serius. Evergrande sendiri telah memasuki proses likuidasi setelah gagal mengatasi beban utangnya, sementara berbagai aset perusahaan terus menjadi bagian dari proses penyelesaian kewajiban kepada para kreditur. Vonis terhadap Hui tidak serta-merta menghapus dampak ekonomi yang ditinggalkan oleh keruntuhan perusahaan. Namun, keputusan tersebut menandai tahap penting dalam pertanggungjawaban hukum atas salah satu keruntuhan korporasi terbesar yang pernah mengguncang sektor properti China.







