Jakarta, 6 September 2026 – Mata merah setelah berenang di kolam renang sering dianggap sebagai akibat langsung dari kandungan klorin yang digunakan untuk menjaga kebersihan air. Namun, kondisi tersebut ternyata tidak sesederhana anggapan bahwa semakin banyak klorin, semakin besar kemungkinan mata mengalami iritasi. Salah satu penyebab yang dapat berperan adalah reaksi kimia antara klorin dengan zat organik yang masuk ke dalam air, termasuk urin, keringat, kotoran tubuh, serta berbagai senyawa lain yang dibawa oleh perenang. Reaksi tersebut dapat menghasilkan senyawa yang dikenal sebagai kloramin, yang berpotensi mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan. Karena itu, mata yang terasa perih dan memerah setelah berenang dapat menjadi tanda bahwa kualitas air kolam perlu diperhatikan. Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan pribadi sebelum memasuki kolam renang agar jumlah kontaminan yang bereaksi dengan bahan disinfektan dapat ditekan.
Klorin pada dasarnya memiliki fungsi penting dalam pengelolaan kolam renang karena digunakan untuk membunuh atau menonaktifkan berbagai mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan penyakit. Penggunaan bahan disinfektan membantu menjaga air tetap aman ketika kolam digunakan secara bergantian oleh banyak orang. Permasalahan dapat muncul ketika klorin bereaksi dengan nitrogen yang berasal dari urin, keringat, sel kulit, dan berbagai bahan organik lainnya. Reaksi kimia tersebut menghasilkan kloramin yang karakteristiknya berbeda dari klorin bebas yang masih tersedia untuk melakukan proses disinfeksi. Semakin banyak kontaminan yang masuk ke kolam, semakin besar pula kebutuhan bahan kimia untuk mempertahankan kualitas air pada tingkat yang sesuai. Oleh sebab itu, kebersihan kolam bukan hanya ditentukan oleh banyaknya bahan disinfektan yang ditambahkan, tetapi juga oleh perilaku orang yang menggunakan fasilitas tersebut.
Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa aroma kimia sangat kuat di sekitar kolam merupakan tanda kandungan klorin yang tinggi dan air berada dalam kondisi sangat bersih. Bau menyengat yang sering disebut sebagai “bau klorin” justru dapat berkaitan dengan keberadaan kloramin yang terbentuk setelah klorin bereaksi dengan berbagai kontaminan. Pada kolam yang dikelola dengan baik, kandungan klorin bebas dipertahankan pada tingkat yang mampu menjalankan fungsi disinfeksi tanpa menghasilkan paparan berlebihan. Sebaliknya, akumulasi kloramin dapat membuat udara di sekitar kolam terasa lebih menyengat, terutama pada fasilitas renang dalam ruangan dengan ventilasi yang kurang memadai. Senyawa tersebut dapat berada di air sekaligus terlepas ke udara tepat di atas permukaan kolam. Perenang kemudian dapat mengalami mata perih, hidung terasa tidak nyaman, batuk, atau iritasi lainnya setelah berada cukup lama di lingkungan tersebut.
Urin menjadi salah satu bahan yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan kloramin karena mengandung senyawa nitrogen seperti urea. Ketika seseorang buang air kecil di kolam, senyawa tersebut bercampur dengan air dan bereaksi dengan bahan disinfektan yang tersedia. Hal serupa sebenarnya juga dapat terjadi melalui keringat dan kotoran tubuh sehingga persoalannya tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan buang air kecil ketika berenang. Inilah alasan pengelola kolam umumnya meminta pengunjung mandi sebelum masuk ke air dan menggunakan toilet terlebih dahulu. Membilas tubuh dapat mengurangi keringat, kosmetik, minyak tubuh, serta kotoran lain yang berpotensi masuk ke kolam. Kebiasaan sederhana tersebut membantu menjaga efektivitas klorin sekaligus mengurangi pembentukan senyawa yang dapat menyebabkan iritasi.
Mata menjadi bagian tubuh yang mudah mengalami keluhan karena permukaannya bersentuhan langsung dengan air ketika seseorang berenang tanpa menggunakan kacamata renang. Paparan air kolam dapat mengganggu lapisan air mata yang secara alami berfungsi melindungi permukaan mata. Apabila air mengandung zat yang bersifat iritatif, mata dapat terasa perih, kering, gatal, berair, atau terlihat merah setelah aktivitas berenang selesai. Pada sebagian orang, keluhan tersebut dapat menghilang setelah mata tidak lagi terpapar air kolam dan mendapatkan waktu untuk memulihkan lapisan pelindung alaminya. Namun, mengucek mata ketika terasa gatal atau perih sebaiknya dihindari karena gesekan dapat memperburuk iritasi. Penggunaan kacamata renang yang pas juga dapat membantu mengurangi kontak langsung antara mata dan air.
Meski demikian, mata merah setelah berenang tidak boleh selalu diasumsikan hanya disebabkan kloramin atau kontaminasi urin. Keluhan serupa dapat muncul akibat berbagai kondisi, termasuk iritasi kimia, gangguan pada permukaan mata, alergi, penggunaan lensa kontak, maupun infeksi. Perenang yang menggunakan lensa kontak perlu memberikan perhatian khusus karena air dapat membawa mikroorganisme yang kemudian terperangkap di antara lensa dan permukaan mata. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan mata yang lebih serius dibandingkan iritasi ringan biasa. Karena itu, berenang menggunakan lensa kontak tanpa perlindungan yang sesuai sebaiknya dihindari. Apabila memang membutuhkan koreksi penglihatan ketika berenang, kacamata renang dengan lensa sesuai kebutuhan dapat menjadi alternatif yang lebih aman.
Setelah mengalami mata merah atau perih, langkah awal yang dapat dilakukan adalah keluar dari kolam dan menghindari paparan lebih lanjut. Mata dapat dibilas menggunakan air bersih apabila terasa tidak nyaman, kemudian dibiarkan beristirahat tanpa digosok. Seseorang juga sebaiknya tidak langsung kembali berenang apabila iritasi masih terasa. Keluhan ringan umumnya perlu dipantau untuk melihat apakah kondisi membaik setelah beberapa waktu. Jika mata tetap merah dalam waktu lama, terasa sangat nyeri, mengeluarkan cairan yang tidak biasa, menjadi sangat sensitif terhadap cahaya, atau penglihatan mengalami perubahan, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan. Gejala seperti penurunan penglihatan tidak seharusnya dianggap sebagai efek normal setelah berenang.
Pengelola fasilitas renang memiliki peran besar dalam mencegah keluhan dengan memastikan sistem filtrasi dan disinfeksi berjalan secara konsisten. Kadar bahan kimia dan tingkat keasaman air perlu dipantau karena keduanya memengaruhi efektivitas proses disinfeksi sekaligus kenyamanan pengguna. Sirkulasi air yang baik membantu membawa kontaminan menuju sistem penyaringan, sementara penggantian dan perawatan air perlu dilakukan sesuai standar pengelolaan kolam. Pada kolam dalam ruangan, ventilasi juga penting karena sebagian senyawa hasil reaksi kimia dapat terakumulasi di udara dekat permukaan air. Pengelola perlu memperhatikan keluhan berulang dari pengguna, terutama apabila banyak perenang mengalami mata perih, batuk, atau iritasi setelah menggunakan fasilitas yang sama. Kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kualitas air maupun sistem pengelolaan kolam.
Dari sisi pengguna, kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kualitas air bagi seluruh orang yang berenang. Mandi sebelum masuk ke kolam, menggunakan toilet terlebih dahulu, tidak buang air kecil di dalam air, serta tidak berenang ketika mengalami diare merupakan bagian penting dari etika sekaligus kebersihan kolam renang. Orangtua juga perlu memberikan jeda secara berkala agar anak dapat menggunakan toilet, terutama karena anak mungkin terlalu asyik bermain sehingga enggan keluar dari air. Kacamata renang dapat digunakan untuk mengurangi paparan langsung terhadap mata, tetapi penggunaannya bukan alasan untuk mengabaikan kebersihan air. Setiap pengunjung pada dasarnya memiliki kontribusi terhadap kualitas lingkungan kolam karena kontaminan yang masuk berasal dari seluruh orang yang menggunakannya. Semakin baik kebiasaan kebersihan perenang, semakin mudah pula pengelola mempertahankan kondisi air yang nyaman dan aman.
Mata merah setelah berenang pada akhirnya dapat menjadi hasil interaksi berbagai faktor dan bukan semata-mata bukti bahwa klorin di kolam terlalu banyak. Klorin tetap diperlukan untuk mengendalikan mikroorganisme, tetapi reaksinya dengan urin, keringat, dan berbagai bahan organik dapat membentuk kloramin yang berpotensi menimbulkan iritasi. Fakta tersebut membuat kebiasaan buang air kecil di kolam bukan hanya persoalan etika, melainkan juga dapat memengaruhi kualitas air yang digunakan bersama. Mandi sebelum berenang dan menggunakan toilet menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi kontaminasi sekaligus mempertahankan efektivitas disinfeksi. Perenang juga perlu memperhatikan kondisi mata setelah keluar dari kolam dan tidak mengabaikan keluhan yang berat atau berlangsung lama. Dengan pengelolaan fasilitas yang baik serta perilaku pengguna yang bertanggung jawab, risiko iritasi dapat ditekan tanpa menghilangkan fungsi penting klorin dalam menjaga kebersihan kolam.





